»Daftar Sekarang!
»Lupa password anda?
Penyakit  |  Obat  |  Tes Kesehatan  |  Info & Tips

Info Penyakit

Hipertiroidisme

Definition :
Hipertiroidisme adalah suatu keadaan dimana kelenjar tiroid bekerja secara berlebihan, sehingga menghasilkan sejumlah besar hormon tiroid. Hipertiroidisme bisa ditemukan dalam bentuk penyakit Graves, gondok noduler toksik atau hipertiroidisme sekunder.

Cause :

Penyebab dari hipertiroidisme adalah:

  • Reaksi imunologis
  • Tiroiditis
  • Adenoma tiroid toksik 




  • Sign & Symptoms :
    Pada hipertiroidisme, apapun penyebabnya, terjadi peningkatan fungsi tubuh:
    - Jantung berdetak lebih cepat dan bisa terjadi kelainan irama jantung, yang bisa menyebabkan palpitasi (jantung berdebar-debar)
    - Tekanan darah cenderung meningkat
    - Penderita merasakan hangat meskipun berada dalam ruangan yang sejuk
    - Kulit menjadi lembab dan cenderung mengeluarkan keringat yang berlebihan
    - Tangan memperlihatkan tremor (gemetaran) halus
    - Penderita merasa gugup, letih dan lemah meskipun tidak melakukan kegiatan yang berat
    - Nafsu makan bertambah, tetapi berat badan berkurang
    - Sulit tidur
    - Sering buang air besar, kadang disertai diare
    - Terjadi perubahan pada mata : bengkak di sekitar mata, bertambahnya pembentukan air mata, iritasi dan peka terhadap cahaya. Gejala ini akan segera menghilang setelah pelepasan hormon tiroid terkendali, kecuali pada penyakit Graves yang menyebabkan gangguan mata khusus.


    Diagnose :
    Tanda-tanda vital (suhu, nadi, laju pernafasan, tekanan darah) menunjukkan peningkatan denyut jantung. Tekanan darah sistolik bisa meningkat.
    Pemeriksaan fisik bisa menunjukkan adanya pembesaran kelenjar tiroid atau gondok.

    Untuk menilai fungsi tiroid dilakukan pemeriksaan:
    - TSH serum (biasanya menurun)
    - T3, T4 (biasanya meningkat).

    Treatment :
    Hipertiroidisme biasanya dapat diatasi dengan obat-obatan, pilihan lainnya adalah pembedahan untuk mengangkat kelenjar tiroid atau pemberian yodium radioaktif. Setiap pengobatan memiliki kelebihan dan kekurangan. Agar bekerja sebagaimana mestinya, kelenjar tiroid memerlukan sejumlah kecil yodium; jumlah yodium yang berlebihan bisa menurunkan jumlah hormon yang dibuat dan mencegah pelepasan hormon tiroid. Karena itu untuk menghentikan pelepasan hormon tiroid yang berlebih, bisa diberikan yodium dosis tinggi. Pemberian yodium terutama bermanfaat jika hipertiroidisme harus segera dikendalikan (misalnya jika terjadi badai tiroid atau sebelum dilakukan tindakan pembedahan). Yodium tidak digunakan pada pengobatan rutin atau pengobatan jangka panjang. Propiltiourasil atau metimazol, merupakan obat yang paling sering digunakan untuk mengobati hipertiroidisme. Obat ini memperlambat fungsi tiroid dengan cara mengurangi pembentukan hormon tiroid oleh kelenjar. Kedua obat tersebut diberikan per-oral (ditelan), dimulai dengan dosis tinggi, selanjutnya disesuaika dengan hasil pemeriksaan darah terhadap hormon tiroid. Obat ini biasanya bisa mengendalikan fungsi tiroid dalam waktu 6 minggu sampai 3 bulan. Dosis yang lebih tinggi bisa mempercepat pengendalian fungis tiroid, tetapi resiko terjadinya efek samping juga meningkat. Efek samping yang terjadi bisa berupa reaksi alergi (ruam kulit), mual, hilang rasa dan penekanan sintesa sel darah merah di sumsum tulang. Penekanan sumsum tulang bisa menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah putih, sehingga penderita sangat peka terhadap infeksi. Pada wanita hamil, penggunaan propiltriurasil lebih aman dibandingkan dengan metimazol karena lebih sedikit obat yang sampai ke janin. Obat-obat beta bloker (misalnya propanolol) membantu mengendalikan beberapa gejala hipertiroidisme. Obat ini efektif dalam memperlambat denyut jantung yang cepat, mengurangi gemetar dan mengendalikan kecemasan. Beta bloker terutama bermanfaat dalam mengatasi badai tiroid dan penderita yang memiliki gejala yang mengganggu atau berbahaya, yang hipertiroidismenya tidak dapat dikendalikan oleh obat lain. Tetapi beta bloker tidak mengendalikan fungsi tiroid yang abnormal. Hipertiroidisme juga bisa diobati dengan yodium radioaktif, yang menghancurkan kelanjar tiroid. Yodium radioaktif per-oral memberikan pengaruh yang sangat kecil terhadap tubuh, tetapi memberikan pengaruh yang besar terhadap kelenjar tiroid. Karena itu dosisnya disesuaikan sehingga hanya menghancurkan sejumlah kecil tiroid agar pembentukan hormon kembali normal, tanpa terlalu banyak mengurangi fungsi tiroid. Sebagian besar pemakaian yodium radioaktif pada akhirnya menyebakan hipotiroidisme. Sekitar 25% penderita mengalami hipotiroidisme dalam waktu 1 tahun setelah pemberian yodium radioaktif. Yodium radioaktif tidak diberikan kepada wanita hamil karena bisa melewati sawar plasenta dan bisa merusak kelenjar tiroid janin. Pada tiroidektomi, kelenjar tiroid diangkat melalui pembedahan. Pembedahan merupakan terapi pilihan untuk: - penderita muda - penderita yang gondoknya sangat besar - penderita yang alergi terhadap obat atau mengalami efek samping akibat obat. Setelah menjalani pembedahan, bisa terjadi hipotiroidisme. Kepada penderita ini diberikan terapi sulih hormon sepanjang hidupnya. Komplikasi lain dari pembedahan adalah kelumpuhan pita suara dan kerusakan kelenjar paratiroid (kelenjar kecil di belakang kelenjar tiroid yang mengendalikan kadar kalsium dalam darah).



     
     
    Join Us, FREE!
    Home | Privacy Policy | Terms & Conditions | Guestbook | Contact Us | Tim TanyaDokter.com
    Informasi yang tersedia di situs ini dimaksudkan hanya untuk pengetahuan umum saja, bukan untuk menggantikan saran dokter Anda, juga bukan
    untuk pengobatan kondisi medis khusus.Informasi ini juga bukan untuk menegakkan diagnosis penyakit atau mengobati penyakit tanpa berkonsultasi
    dulu dengan dokter Anda. Anda dapat menanyakan kondisi medis anda di halaman konsultasi kami atau ke dokter Anda secara langsung.
    © Copyright 2006-2014 TanyaDokter. All Rights Reserved. Powered by Menaravisi